Kamis, 05 Mei 2011

Sahabat yang setia

    Dahulu kala dinegeri Hindustan adalah dua orang muda bersahabat. Sangatlah karib persahabatan keduanya. Yang seorang bernama Aria dan yang seorang lagi Satia namanya.

    Adapun raja dalam negeri itu sangat keras hukum baginda. Siapa bersalah, biar sedikit, berat sekali hukumannya.

    Pada suatu hari Aria tertuduh berbuat suatu kejahatan. Maka kepadanya dijatuhkan hukum mati oleh raja.

    Hukuman itu diterima oleh Aria. Tetapi ia bermohon kepada raja, supaya ia diberi izin dahulu menemui ibu-bapanya, sebelum ia menjalankan hukuman.

    Titah raja: "Boleh engkau pergi, tetapi mesti ada orang yang akan pengganti engkau. Jika engkau tidak kembali, orang itulah yang akan dihukum mati."

    Aria sangat susah hatinya. Siapakah yang akan suka menggantikannya? Ia telah lupa kepada sahabatnya Satia, yang ada juga hadir dalam pengadilan itu.

    Tiba-tiba Satia maju kemuka, lalu berdatang sembah: "Patiklah yang akan menggantikannya, tuanku."

    Raja heran melihat anak muda itu. Titah raja: "Hai orang muda, percayakah engkau ia akan kembali kelak?"

    Sembah Satia: "Patik percaya, tuanku! Ia akan kembali pada waktu yang dijanjikannya."

    Pada sa'at itu juga Aria berangkat kenegerinya dan Satia dimasukkan orang kedalam penjara akan menggantikan sahabatnya.

    Hari akan menjalankan hukuman bertambah dekat jua. Tetapi Aria belum juga kembali. Dari sa'at kesa'at waktu itu makin dekat. Akhirnya sampailah ketikanya hukum mati itu akan dijalankan. Ketika itu Aria belum juga datang.

    Keliling tanah lapang, tempat menjalankan hukuman itu, sudah penuh sesak oleh manusia. Mereka itu menyesali perbuatan Satia. Mengapa ia percaya saja janji sahabatnya itu? Sekarang ia sendiri yang mesti mati karena kebodohannya itu. Perempuan banyak yang menangis mengenang nasib anak muda yang malang itu.

    Akan tetapi Satia sabar dan tenang saja. Tak ada gentar dan takutnya. "Kalau sahabat saya itu tidak datang pada waktunya bukanlah karena salahnya", kata Satia kepada orang-orang yang menyesalinya. "Saya tetap percaya padanya."

    Satia berjalan menuju tiang gantungan. Langkahnya tetap dan air mukanya tenang. Hanya orang yang melihat sangat gelisah dan hatinya berdebar-debar.

    Ketika algojo mengenakan tali keleher anak muda itu, tiba-tiba dari dalam orang banyak itu berlari seorang orang anak muda. Orang banyak itu didorongnya kekiri dan kekanan, lalu ia masuk ketengah gelanggang.

    Dengan napas terengah-engah dipeluknya Satia. Anak muda itu ialah Aria. Ia terlambat datang, karena dijalan hari hujan besar. Sungai yang akan diseberanginya sedang sebak airnya, jambatannya hanyut oleh bah. Lain dari pada itu ia ditahan oleh sekawan penyamun. Karena keberaniannya, ia dapat melepaskan dirinya. Dengan secepat-cepatnya ia berlari, supaya ia jangan terlambat tiba menjalankan hukumannya.

    Mendengar cerita Aria itu hati raja sangat terharu. Terasa benar oleh baginda, betapa kokohnya kesetiaan kedua sahabat itu.

    Dengan muka berseri-seri raja bertitah, sabdanya: "Hai Aria, karena kesetiaanmu itu, kita ampuni engkau dari hukumanmu. Persahabatanmu kedua susah didapat, mahal dicari. Sebab itu mulai dari sekarang, jadikanlah kita sahabatmu yang ketiga!"

    Kedua sahabat itu mengucap syukur mendapat ampun itu, apalagi rajapun telah menjadi sahabatnya pula.


( bersumber dari buku "Tjeritera Goeroe" )

Tidak ada komentar: