Kamis, 05 Mei 2011

Pemberian orang jangan dihinakan

    Pada suatu hari si Saleh, si Samat dan si Samsi pergi keladang. Setelah selesai kerjanya duduklah mereka itu akan makan. Ketika itu tampak oleh mereka itu seorang orang-tua. Rupanya ia baru datang dari berjalan jauh, karena kelihatannya sangat lelah dan lapar.

    Kata si Saleh: "Hai kawan, marilah kita berikan nasi kita ini sedikit kepada orang tua itu!"

    Jawab keduanya: "Ah, segala orang lalu akan diberi makan. Untuk awak saja tidak akan cukup."

    Kata si Saleh: "Tidak baik seperti itu! Kita dirumah nanti akan dapat juga makan kenyang. tetapi ia belum tentu. Boleh jadi ia orang yang sengsara, sudah beberapa hari tiada makan."

    Akhirnya Samat dan Samsi menurut. Orang tua itu makan dengan kenyangnya. Ketiganya amat senang melihatnya. Setelah sudah ia makan, orang tua itu berkata: "Beruntung benar saya bertemu dengan engkau ketiganya. Sekarang saya merasa sudah hidup kembali, karena kemurahan hatimu. Dengan apalah akan saya balas budimu itu? Saya ini orang melarat dan sengsara, tak mempunyai suatu apa. Tetapi saya ada mendapat tiga buah biji dijalanan. Ambillah biji ini, tanam diladangmu. Barangkali ada juga hasilnya." Sesudah berkata itu iapun pergilah.

    Ketika mereka itu tinggal bertiga saja lagi, Samat dan Samsi berkata sambil tertawa-tawa: "Cis.., biji ini untuk pembalas budi? Dihalaman rumahku bagai kersik dipantai. Biarlah ia tumbuh dalam hutan itu!" Biji itu dilantingkannya jauh-jauh kedalam semak.

    Kata si Saleh: "Tidak baik seperti itu. Betapapun macamnya pemberian orang, tak baik dihinakan. Biarpun barang yang tak berharga, harus diterima juga dengan baik. Siapa tahu orang itu orang keramat! Biji yang diberikannya itu menjadi pohon yang berbuah emas."

    Mendengar itu Samat dan Samsi makin tertawa-tawa. "Hai buyung!" katanya: "Bukan begitu macamnya orang keramat; pakaiannya saja macam dimanah anjing rupanya. Kalau orang keramat masakan ia hampir mati kelaparan. Belum tahu juga engkau membedakan orang minta-minta dengan orang keramat."

    Si Saleh tak menjawab lagi. Tetapi dalam hatinya sudah tetap tak kan membuangkan biji pemberian orang tua itu. Biarpun tidak akan berbuah apa-apa, akan ditanamnya juga sebaik-baiknya.

    Beberapa pekan sudah itu biji yang ditanam si Saleh sudah tumbuh. Hatinya sangat girang dan dipeliharanya baik-baik. Kedua kawannya makin mentertawakannya, tetapi tidak dipedulikannya.

    Pohon si Saleh sudah besar, tumbuhnya subur dan daunnya rimbun.

    Pada suatu malam ia bermimpi. Rasanya pohonnya itu betul-betul berbuah emas. Maka kaya rayalah ia serta dihormati orang. Ia diam dalam sebuah istana yang indah. Setelah ia terbangun hatinya berdebar-debar. Benarkah pohonnya itu berbuah emas nanti? Kalau benar, betapalah sukacitanya! Mimpi itu diceritakannya kepada kedua kawannya. Mula-mula Samat dan Samsi mentertawa-tawakannya. Tetapi kemudian bimbang ia, kalau-kalau benar mimpi si Saleh itu. Keduanya mulai menyesal karena membuangkan bijinya dahulu.

    Pada suatu hari berbungalah pohon si Saleh dan tiada berapa lama antaranya berputik. Alangkah kecewa si Saleh, karena putiknya bukanlah emas, melainkan putik mangga biasa saja.

     Samat dan Samsi memperolok-olokkan kawannya pula, katanya: "hai Saleh, kami lihat pohonmu berputik mangga, tidak berputik emas. Bagaimanakah pemberian orang keramatmu itu?"

    Tetapi Saleh diam saja. Hatinya disenangkannya dengan pohon mangga yang berbuah lebat itu.

    Buah itu makin lama makin besar dan kuning-kuning. Setelah masak benar, maka dipetiklah oleh si Saleh lalu dibawanya kepasar. Laris benar mangganya, karena manis dan elok warnanya. Banyak ia mendapat uang dari harga mangganya itu. Biarpun tidak cukup untuk pembeli sebuah istana, tetapi baginya sudah banyak.

    Ketika sampai dirumah, dipanggilnyalah kedua kawannya itu. Kata Saleh: "Lihatlah, pohonku itu benar tidak berbuah emas, tetapi ada berbuah perak dan tembaga. Inilah dia!"

    Saleh menuangkan isi pundi-pundinya keatas tikar, berdencing-dencing bunyinya. Samat dan Samsi tercengang-cengang melihat. Sesalnya timbul pula kembali, karena membuangkan biji yang diberikan orang tua itu.


( bersumber dari buku "Tjeritera Goeroe" )

Tidak ada komentar: