Senin, 30 Mei 2011

Gajah dengan Raja Bulan

    Dalam sebuah hutan tinggal berpuluh-puluh ekor gajah. Seekor diantaranya, yaitu yang sebesar-besar dan sekuat-kuatnya, diangkat oleh gajah yang banyak itu menjadi rajanya.  Gajah itulah yang memimpin dan menjaga sekalian gajah itu.

    Pada suatu hari, waktu musim kemarau, telaga dan sungai dihutan itu habis kering semuanya. Hilanglah akal sekalian gajah itu mencari air untuk minum. Dicarinya kesana kemari dalam hutan itu, tetapi tak juga dapat.

    Tiba-tiba kelihatan olehnya sebuah telaga, yang masih berair ditengah-tengah padang yang dikelilingi oleh pohon yang besar-besar dan tinggi-tinggi. Pergilah sekaliannya ketempat itu akan melepaskan dahaganya. Dalam telaga itu ada beratus-ratus ekor katak. Gajah amat susah mendapat air, tetapi katak yang banyak itu berenang bersuka-suka saja dalam telaga itu.

    Waktu gajah itu masuk kedalamnya hendak minum, terpijak olehnya beberapa ekor katak, sehingga mati.

    Raja Katak berkata kepada katak yang lain, katanya : "Kalau kita biarkan saja yang seperti ini, tentulah kita akan mati semuanya. Apa akal kita akan menghindarkan bahaya ini? Akan kita lawan, tentu tak mungkin". Katak itu diam semuanya.  Tiba-tiba berkata seekor diantaranya, katanya : "Sebab kita kecil, haruslah kita pergunakan akal kita. Biarlah saja coba menipu raja gajah itu."

    Iapun pergilah mendapatkan raja gajah itu, lalu berkata, katanya : "Didalam telaga itu tinggal raja bulan. kami disuruh baginda menunggui telaga itu. Waktu tuan dan gajah yang lain masuk kedalam telaga itu hendak minum, berpuluh anak kami mati terpijak. Sebab itu kami adukan hal itu kepada raja bulan. Baginda amat marah mendengar hal itu, Lalu baginda mengutus saya datang kemari akan mengusir tuanku dan gajah yang lain pergi dari sini. Kalau tuanku tidak percaya,datanglah tuanku malam nanti, kira-kira pukul sebelas. Biasanya raja bulan waktu itu keluar dari istananya akan bercengkerama."

    "Baiklah", jawab raja gajah itu. "Nanti malam saya datang kesana."

    Pada waktu yang telah ditentukan raja gajah itupun pergilah ketelaga. Malam itu bulan purnama. Langit sangat bersihnya, tidak berawan sedikit juga.

    Waktu gajah melihat kedalam telaga itu, terang benar tampak olehnya bayang-bayang bulan.

    Bukan main takutnya waktu itu, lalu ia berlutut dan berkata, katanya : "Ampuni kami semuanya, karena sudah memijak-mijak penjaga istana tuanku. Yang akan datang tidak akan kami buat lagi.

    Seekor katak besar mengubah suaranya, lalu berkata dengan besar suaranya, ujarnya : "Pergilah dengan lekas dari sini! Saya tak mau melihatmu lagi".

    Dengan ketakutan raja gajah itu mundur perlahan-lahan, lalu mengerahkan rakyatnya pergi dari situ.



( bersumber dari buku : "Tjeritera Goeroe" )




Tidak ada komentar: