Selasa, 30 Oktober 2012

Musim Layang-layang

Layang-layang.  by: lagu anak-anak

Kuambil buluh sebatang.

Kupotong sama panjang.

Kuraut dan kutimbang dengan benang.

Kujadikan layang-layang.

Bermain, berlari.

Bermain layang-layang.

Bermain kubawa ketanah lapang.

Hati gembira dan riang.

 

Padi sudah disabit dan sudah dibawa pulang kelumbung. Sawah-sawah yang seperti ditaburi dengan emas dahulu, sekarang sudah seperti kepala gundul. Banyak itik, ayam dan kerbau mencari makanannya disitu.

Pada petang hari banyaklah anak-anak menaikkan layang-layangnya. Bermacam-macam bangunnya : ada yang seperti ikan, ada yang seperti bulan dan ada pula yang serupa burung.

Si Amatpun ada berlayang-layang yang dibuatnya sendiri. Layang-layang itu sebagai ular; ekornya panjang, hampir tiga depa. Susah benar menaikkannya. Kalau tak ada angin kencang, tak mau naik, sebab itu si Alipun bersiul-siullah memanggil angin.

Tiada berapa lama antaranya turunlah angin kencang. Lalu si Ali disuruh abangnya menganjungkan layang-layangnya. Tiada berapa lamanya naiklah layang-layang itu, bagus benar, sehingga hampir tegak tali; naik layang-layang yang demikian berpayung namanya. Ekornya selalu bergerak-gerak, tetapi tegaknya tiada berubah, tidak seperti layang-layang Palembang yang susah dipegang tetap.

“Mari saya pegang, bang!” ujar si Ali.
 
“Tunggu dulu,” jawab abangnya. “Biar kita ulur habis-habis, baru kau pegang.”

Maka habislah benangnya diulur si Amat, sehingga layang-layang sebesar itu sekarang kecil benar tampaknya.

Tiba-tiba si Ali menunjuk kepada layang-layang yang putus. Beramai-ramai anak-anak itu mengejar, tetapi tak dapat sebab terbangnya meninggi; dengan tangan hampa kembalilah mereka itu, bermain layang-layang sebagai bermula.

 
 

(Bersumber dari buku : “Dikampung”)

 
 
   

 

Tidak ada komentar: